PKK Bantaeng Gelar Pertemuan Strategis, Perkuat Peran Perempuan dan Fondasi Etika Berorganisasi
Kabar Bantaeng– Dalam sebuah pertemuan yang penuh makna dan semangat kolaborasi, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Bantaeng menggelar pertemuan pengurus yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Etika Berorganisasi. Acara yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Bantaeng ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk memperkuat peran strategis perempuan dalam membangun tatanan masyarakat yang lebih beradab dan sejahtera.
Hadir dalam kesempatan tersebut seluruh jajaran pengurus PKK Kabupaten Bantaeng, para tokoh perempuan, serta narasumber berkompeten, Sarlin Nur, SE., MM, dari Forum Creative Cendekia (FCC) Sulawesi Selatan. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan bahwa PKK Bantaeng serius dalam membangun jaringan dan kapasitas organisasinya.
PKK: Ujung Tombak Pemberdayaan yang Menyentuh Akar Rumput
Membuka acara dengan semangat yang membara, Ketua TP PKK Kabupaten Bantaeng, Gunya Paramashukaputri, S.Ikom, dalam sambutannya menekankan posisi sentral PKK sebagai gerakan masyarakat. Ia menggambarkan PKK bukan sebagai menara gading birokrasi, melainkan sebagai “ujung tombak” yang langsung bersentuhan dengan denyut nadi kehidupan masyarakat, khususnya di tingkat keluarga.
“PKK adalah jantung dari pemberdayaan keluarga di Bantaeng. Setiap program yang kita jalankan, dari kesehatan ibu dan anak, pendidikan keluarga, hingga ekonomi produktif, memiliki dampak riil yang langsung dirasakan oleh warga. Karena itu, komitmen dan integritas setiap kader adalah kunci keberhasilan kita,” tegas Gunya dengan lugas.
Pernyataan ini menyiratkan sebuah visi yang jelas: PKK memandang keluarga sebagai unit terkecil dan terpenting dalam pembangunan bangsa. Dengan memberdayakan keluarga, secara otomatis masyarakat dan bangsa ikut terangkat.
Etika Berorganisasi: Landasan Moral di Era Kompleksitas
Fokus utama pertemuan ini adalah Sosialisasi Etika Berorganisasi. Dalam paparannya, Gunya Paramashukaputri mendalami makna etika bukan sekadar sebagai aturan tertulis, melainkan sebagai landasan moral yang menjadi kompas dalam setiap tindakan.

Baca Juga: Bupati Bantaeng Janjikan Lahan untuk Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit UMI
“Etika dalam berorganisasi adalah pedoman kita dalam bersikap, berkomunikasi, dan menjalin kerja sama, baik antar sesama anggota maupun dengan mitra kerja yang lain,” ujarnya. Ia melanjutkan, dalam dunia yang semakin kompleks, di mana interaksi tidak hanya terjadi secara tatap muka tetapi juga di ruang digital, pemahaman akan etika menjadi semakin krusial.
Etika, menurutnya, adalah fondasi yang menciptakan ekosistem organisasi yang kondusif, harmonis, dan produktif. Tanpa etika, sebuah organisasi yang besar seperti PKK rentan terhadap miskomunikasi, konflik, dan inefisiensi yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat yang dilayani.
Dari Teori ke Praktik: Menciptakan Lingkungan yang Saling Menghargai
Sosialisasi yang menghadirkan Sarlin Nur dari FCC Sulsel diharapkan dapat memberikan perspektif segar dan praktis. Sebagai seorang yang bergelut di dunia cendekia dan kreatif, Sarlin Nur diyakini dapat membawakan materi yang tidak hanya teoritis tetapi juga aplikatif, menyentuh tantangan-tantangan nyata yang dihadapi kader PKK sehari-hari.
Mengakhiri sambutannya, Gunya Paramashukaputri menyampaikan pesan yang dalam dan berkesan. Ia mengingatkan setiap kader untuk senantiasa menjaga nama baik organisasi.




